26 Juni 2010

Pembentukan Karakter

Tugas guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik. Proses mendidik tersebut tidak lepas dari tujuan pembelajaran ranah afektif. Lihatlah kondisi masyarakat kita saat ini. Solidaritas bangsa sudah menurun. Terjadi dekadensi moral di mana-mana. 

Kita diam saja ketika banyak anak bangsa yang tidur dan tinggal di kolong jembatan. Kita juga diam ketika banyak anak bangsa yang meminta-minta di jalan. Kita juga hanya diam ketika banyak anak bangsa yang meregang nyawa akibat busung lapar dan gizi buruk.

Dengan situasi demikian, apa peran kita sebagai guru? Pendidikan haruslah dapat mengembangkan manusia dengan nilai-nilai kemanusiaannya. Nilai kemanusiaan tersebut dibangun pada masing-masing siswa kita dalam suatu kerangka besar yang dinamakan jati diri bangsa. 

Inilah tugas kita sebagai guru. Menanamkan nilai-nilai kemanusiaan pada diri siswa sehingga terbentuklah karakter yang kuat. Berat memang dan hasilnya tidak dapat kita lihat dalam waktu yang cepat. Namun demikian, pendidikan adalah suatu proses yang berkesinambungan. Nilai yang kita tanam pada diri siswa akan kita tuai hasilnya beberapa tahun yang akan datang. Tanamlah dengan benih yang baik maka hasilnya juga akan baik. Insyaallah.
Share:

25 Juni 2010

Pembelajaran Sastra Riau: Antara Ada dan Tiada

Munculnya kegagalan dalam pembelajaran sastra, tidak luput dari tudingan bahwa guru bahasa dan sastra Indonesia tidak berkompeten di bidangnya. Hal ini tidak semestinya salah. Guru bahasa di sekolah juga merangkap sebagai guru sastra. Jika kita ingin mengakui kelemahan dalam pembelajaran sastra yang kita ajarkan, tudingan pertama itu pastilah mengarah pada guru.

Banyak guru bahasa Indonesia yang tidak memiliki apresiasi terhadap sastra itu sendiri. Pemberlakuan KTSP memungkinkan guru untuk menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik lingkungan dan siswanya. Dalam pembelajaran sastra, tentu saja ini mengarah pada sastra setempat. Di Riau, tentu saja sastra melayu Riau.

Aneh bin ajaib, banyak siswa yang tidak mengenal sastra Riau. Siswa tidak tahu nazam, tidak tahu seloka, tidak tahu cerita lipur lara,tidak pernah dengar hikayat. Menyedihkan memang. Siswa hanya mengetahui sedikit tentang pantun dan syair. Itu pun hanya ciri-cirinya. Itu baru karya sastra. Jika ditanya tentang pujangga Riau, hampir dipastikan siswa tidak tahu.Persoalan klasik seputar pembelajaran sastra ini adalah guru tidak memiliki bakat, tidak ingin tahu, dan tidak memiliki sensitivitas terhadap karya sastra pujangga Riau.

Dalam pembelajaran sastra, guru hanya mencecoki siswa tentang aspek kognitif sastra, bukan aspek afektif. Padahal, tujuan pembelajaran sastra itu sendiri adalah agar siswa memiliki apresiasi yang tinggi terhadap karya sastra. Dalam hal ini tentulah karya sastra Riau. sesungguhnya, sastra itu bisa membuat manusia menjadi peka terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar mereka. Sastra juga dapat memberikan pelajaran hidup berharga bagi manusia. Agar persoalan ini tidak berlarut-larut, sudah semestinya guru sastra introspeksi dan bertaubat. Kembalilah pada pembelajaran sastra yang sesungguhnya. 

Bagaimana caranya? Berikut adalah solusi yang ditawarkan oleh Bapak Elmustian Rahman (Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Riau pada seminar bulan bahasa tahun 2008. Dapatlah kita terapkan pada pembelajaran sastra Riau di kelas nantinya.

Target Terukur:
1. Siswa diminta membaca minimal 5 judul karya sastra Riau
2. Guru mendampingi siswa agar siswa "mengalami sastra Riau"
Metodologi:
a. Pendampingan: penugasan yang dilakukan guru sesuai dengan kerangka acuan yang ditetapkan dan penambahan kreatif oleh siswa.
b. Ouput pendampingan berupa: penugasan pembacaan minimal 10 karya sastra Riau dan tulisan berupa kesan dan kritik siswa terhadap karya sastra Riau yang dibacanya
Selamat mencoba!
Share:

17 Juni 2010

Kasta Baru dalam Dunia Pendidikan

Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan. Demikianlah amanat Undang-undang Dasar 1945. Kenyataannya, tidak semua warga negara mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak. Banyak anak-anak yang tergolong cerdas namun kehilangan kesempatan untuk bersekolah disebabkan oleh kondisi ekonomi orang tua yang kurang baik. Sekolah mahal, kata mereka. Pendapat ini tentu tidak salah. 

Lihatlah sekarang. Banyak sekolah negeri yang berlabel internasional. Akibatnya, biaya pendidikan di sekolah tersebut menjadi mahal. Tidak itu saja, pungutan menjadi hal yang biasa. Jika biaya sekolah menjadi mahal, otomatis banyak siswa cerdas dari golongan ekonomi lemah tidak memiliki peluang sama sekali untuk bersekolah di sekolah yang katanya bertaraf internasional tersebut. Inilah yang dinamakan kasta baru dalam dunia pendidikan. 

Kondisi ini sama persis dengan kondisi pada zaman penjajahan dulu. Hanya siswa tertentu saja yang mendapatkan pendidikan yang layak. Kualitas guru sekolah berstandar internasional apakah sebagus namanya? Eitss tunggu dulu. Kualitas mereka patut dipertanyakan. Mereka tidak dipersiapkan secara optimal untuk itu. Sekarang, timbullah pertanyaan. Apanya yang internasional? Kurikulum? Tidak. Kualitas guru? Belum tentu. Jangan-jangan biayanya yang internasional? Lihatlah kondisi di lapangan dan anda bisa menemukan jawabannya.
Share: