31 Mei 2009

Ujian Nasional

Senang sekali rasanya bisa kembali menulis setelah beberapa waktu kesenangan ini terpaksa dihentikan seketika karena berbagai kesibukan yang tidak dapat saya tinggalkan. Meskipun agak terlambat membahas tentang ujian nasional tetapi tidak ada kata terlambat untuk kembali menulis. Mengapa lagi-lagi topik ini muncul? Karena memang topik yang satu ini selalu menarik untuk diperbincangkan atau diperdebatkan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya, termasuk saya tentunya.

Ketika ujian nasional sudah semakin dekat, banyak sekali tanggapan dan kecaman yang datang dari berbagai kalangan. Begitulah setiap tahun. Ternyata proses berdemokrasi juga berjalan alot dalam polemik ujian nasional ini. Meskipun otonomi daerah telah lama didengung-dengungkan, ternyata pendidikan masih juga otoritas pemerintah pusat. Standar kelulusan ditingkatkan setiap tahunnya. Tahun ini saja sudah mencapai 5.5. Akibatnya, banyak siswa, guru, dan orang tua yang stres. Kasian.

Yang lebih parahnya lagi, kasus pembocoran soal dan kunci jawaban ujian nasional masih tetap menjadi berita basi yang kita dengar atau bahkan kita saksikan atau jangan-jangan malah kita terlibat di dalamnya. Hebat!

Terlepas dari pro ataupun kontra terhadap UN, toh pemerintah pusat tidak salah menetapkan standar kelulusan yang katanya untuk melihat sejauh mana kualitas pendidikan di setiap daerah . Tentu saja, daerah yang kurang fasilitas pendidikan tetap tertinggal dengan lembaga pendidikan yang ada di kota-kota besar. Maka dari itu, seharusnya sekolah-sekolah yang berada di kota-kota besar dan memiliki fasilitas pendidikan yang memadai harus malu dengan satndar kelulusan yang sama dengan sekolah-sekolah yang terletak di daerah terpencil atau terisolir yang dapat dipastikan sangat minim fasilitas pendidikannya.

Tampaknya kita memang tidak akan pernah berhenti bekerja keras dalam menyiapkan siswa-siswa kita menghadapi UN. Terlepas dari UN, satu hal yang mesti selalu kita ingat adalah tujuan utama pendidikan adalah menciptakan generasi yang berakhlak mulia dan bertakwa yang tentu saja hal ini tidak dapat diukur dengan standar kelulusan. Wallahualam.
Share: