29 Juni 2017

Ketupat Lebaran Mak Ais


Mak Ais panggilannya. Berusia sekitar enam puluh tahunan. Tinggal sendiri tanpa ada yang tahu kemana anggota keluarganya. Sudah berpuluh tahun ia mendiami gubuk kecil di sekitar perkebunan sawit. Beruntung pemilik kebun berbaik hati telah mengizinkannya membangun gubuk sebagai tempat berteduh.

Tangan Mak Ais penuh guratan kasar. Menandakan seorang pekerja keras. Wajah tuanya terlihat lelah karena menanggung beban hidup yang berat. Pernah aku bertanya tentang keluarganya. Ia menolak memberitahu​. Aku merasa hatinya penuh getir dan luka.

Yang aku tahu, saban tahun menjelang lebaran, ia bekerja lebih keras dari biasanya. Ia bertanam sayur pada sepetak kecil tanah di samping gubuk. Kadang kala meraut lidi daun kelapa sawit untuk dijadikan sapu. Kemudian, hasil panen sayur dan sapu lidi dijual ke pasar.

Sebelum mudik, aku sempatkan mampir ke gubuk Mak Ais dan membawakannya sekarung beras zakat fitrah. Saat itu ia sedang meraut daun kelapa. Barangkali untuk persiapan ketupat lebaran.

Ia bercerita panjang. Setiap menjelang lebaran Idul Fitri selalu membuat ketupat. Menyisihkan receh demi receh untuk membeli daging. Katanya daging tersebut akan direndang. Agaknya Mak Ais berasal dari Sumatra. Barangkali keturunan suku Padang atau Melayu Riau. Setahuku, orang Padang dan Melayu gemar memasak rendang saat menyambut lebaran.

Ternyata, ketupat lebaran dan rendang dipersiapkan untuk menyambut kedatangan anak dan cucunya. Akan tetapi, sudah hampir lima belas tahun anak dan cucu tak pernah muncul.

Sedihnya lagi, meski tak pernah kedatangan sanak saudara di hari lebaran, Mak Ais tak pernah absen menyiapkan ketupat dan rendang. Ia berharap, suatu waktu, pada hari lebaran anak dan cucu datang berkunjung.

Dari sudut matanya, aku melihat tetes air mengalir. Jatuh ke tumpukan dedaunan kelapa yang belum sempat dianyam menjadi ketupat. Tahun ini lebaran Mak Ais masih sama getirnya seperti tahun-tahun lalu. Langit Samarinda seakan-akan merasakan kepiluannya. Gelap dan mendung. Tak lama, bulir air tercurah dengan deras. Aku berjalan gontai dalam derai hujan senja hari.

~Priya Himba, 4 Syawal 1438
repost by lembayungmerahsenja
Photo Credit: warung apung







Share:

Hening di Selasar Jembatan


Pada selasar jembatan yang terentang, kau duduk memeluk kesendirian. Ditemani gemericik air dan pucuk dedaunan. Engkau adalah hening paling diam. Yang tertinggal dari jejak senyap semalam.

Adakah cemas merenggut hati? Manakala setiap rindu telah kubahasakan. Meski hanya tertuang dalam sajak sepagi dan sepetang hari.

Andai saja kau bisa mendengar desir angin. Atau getar lirih ranting-ranting. Bukan sepi meneriakkan hening. Hanya ada riuh rinduku yang terombang-ambing.

~lembayungmerahsenja
Photo Credit : Pexels
Share:

Luka dalam Secangkir Kopi


Pernah aku mengira-ngira. Terbuat dari apa biji kopi yang kuseduh saban senja. Apakah asalnya dari bulir air mata? Sebab, tiap kusesap, seolah-olah terbenam dalam luka.

Secangkir kopi hitam. Segala getir mengalir di dalamnya. Seperti getasnya angin malam. Begitulah caraku menerjemahkan perasaan sia-sia.

Hanya ada mimpi samar-samar. Terlukis pada pinggiran cangkir kopi. Kutahu bukan engkau yang menjadi tempat bersandar. Sialnya, hati tetap bergeming.

Aku dan secangkir kopi hitam. Biarlah pilu mengendap dalam pelukan.

~lembayungmerahsenja



Share:

Media Sosial sebagai Buku Harian: Privasi atau Pamer?


Dahulu, orang menulis di buku harian. Sifatnya privasi dan rahasia. Hanya pemiliknya saja yang memiliki akses penuh terhadap seluruh tulisan yang dimuat di dalamnya.

Seiring berkembangnya teknologi, buku harian telah ditinggalkan. Kini, media sosial dijadikan sebagai pengganti buku harian oleh banyak orang. Siapapun memiliki akses untuk membacanya. Tak jarang, media sosial menjadi ajang pamer. Orang tak lagi malu menunjukkan ranah privasi kehidupannya.

Beli barang tertentu, pamer ke media sosial. Barang branded atau tiruan, menjadi urusan belakangan. Kemesraan suami istri pamer ke media sosial. Entah kemesraan palsu atau sesungguhnya. Mengerjakan amal tertentu tak luput dipamerkan ke media sosial.

"Alhamdulillah, sudah 10 juz."
"Sepertiga malam terakhir, tahajud dulu."
"On the way masjid ikut tarawih."
"Sedekah untuk anak yatim. Mudah-mudahan berkah."
"Selfie dulu sebelum mendengarkan ceramah Pak Ustadz," sambil cekrek-cekrek foto.

Urusan cakep atau jelek tak jadi persoalan. Yang penting percaya diri. Padahal, status yang lewat di beranda orang lain, tak jarang menganggu. Kukira, tak ada yang suka saat disuguhi raut wajah pas-pasan ketika membuka akun media sosial. Tapi begitulah. Kepercayaan diri sudah terlalu tinggi. Tak peduli orang lain terganggu dengan status atau foto-fotonya yang pas-pasan tadi. Untung saja yang melihat tidak mengalami mimpi buruk di malam hari.

Orang-orang yang senantiasa pamer di media sosial mengalami masalah kebahagiaan dalam kehidupan nyatanya. Mereka tipikal manusia yang butuh pengakuan dan puja-puji orang lain terhadap apapun yang mereka lakukan.  Mereka merasa telah mengerjakan banyak kebaikan namun kebaikannya tidak tercatat disebabkan sifat riya dan ujub. Itulah amalan yang bangkrut.

By the way, ucap cinta pada seseorang bisa menyebabkan hati bangkrut atau tidak, ya?

~lembayungmerahsenja
Photo Credit: buka lapak



Share:

Masih Tega Menawar?

Biasanya, seminggu sekali saya ke pasar untuk berbelanja urusan dapur. Apalagi tanggal muda, semangat belanja memuncak. Seakan-akan ingin memborong semua barang. Pagi Ahad, saya bergegas menuju pasar terdekat. Biasanya ditemani oleh suami. Bukan karena manja melainkan karena suami tak mengizinkan berdesakan tanpa ditemani muhrim. Saya jarang menawar harga saat berbelanja di pasar. Alasannya karena saya memang tipe tak tega dan bodoh dalam menawar. Bila harganya sesuai, dibeli. Bila mahal tak wajar, ngedumel dalam hati saja.

Pagi itu, setelah selesai berbelanja, saya berdiri di pinggir jalan menunggu suami dari parkiran. Lucu ya? Berdiri ya di pinggir jalan. Jika di tengah jalan, naas ditabrak pengendara kendaraan lain. Di sekitar pinggir jalan, banyak juga pedagang menggelar dagangannya. Mata saya tertuju pada seorang lelaki tua dengan penampilan kusam namun bersih. Beliau menjajakan tumpukan ikan kering. Harganya pun cukup murah. Satu tumpuk besar hanya lima ribu rupiah.

Suaranya mendayu-dayu. Memelas pada setiap orang yang lalu lalang untuk membeli ikan kering dagangannya. Saya pun tak luput ditawari. Karena saat itu sudah kehabisan uang, saya menolak dengan sopan.

Seorang pria separuh baya mendekati dagangan Pak Tua. Perawakannya sangat bersih dan perlente. Menunjukkan gaya kelas menengah ke atas.
"Berapa Pak?" Ia bertanya.
"Satu tumpuk cuma lima ribu Pak. Ini ikan asli dari Danau Maninjau. Ambillah Pak," rayu Pak Tua.
"Mahal Pak. Kurangilah lagi harganya" tawar Pak Perlente.
"Sudah murah ini Pak. Ikan ini asli dari Sumbar. Tak pakai pengawet, Pak."
Pak Perlente bergeming. Bersikeras tetap menawar.
"Saya beli dua puluh ribu. Tapi kasi bonusnya satu tumpuk ya. Kalau tak mau, ya sudah."

Akhirnya, Pak Tua merelakan dagangannya dibeli dengan harga dua puluh ribu untuk lima tumpuk ikan kering. Kemungkinan karena dagangannya belum laku membuat Pak Tua mengalah. Pak Perlente sumringah dan merasa menang karena berhasil menawar rendah.

Begitulah umumnya sikap kita. Ketika berbelanja di pasar tak malu untuk menawar serendah mungkin. Meski pada pedagang kecil sekali pun. Sementara, saat berbelanja di pusat perbelanjaan modern, berapa pun label harga, tak sekalipun bisa menawar. Sekali nongkrong di cafe atau mall menghabiskan ratusan ribu. Tak sedikitpun kita mengeluh. Bahkan, bangga karena merasa menjadi bagian high class society. Sungguh hidup yang penuh kepura-puraan.

Padahal, banyak pedagang di pasar menjajakan dagangannya dengan modal seadanya. Menggelar tikar di sepanjang jalan. Berdagang dalam jumlah kecil. Bukan tak boleh menawar. Boleh saja sebab tawar menawar merupakan bagian dari aktivitas ekonomi. Akan tetapi, lihat pula lah keadaan pedagang yang akan kita tawar dagangannya. Apa kita tega menawar harga serendah-rendahnya pada lelaki atau perempuan tua renta yang berdagang kecil-kecilan di pinggir jalan?

Ketika kita menawar dengan harga rendah pada pedagang kecil, bisa jadi mereka melepaskan dagangannya dengan terpaksa. Pernahkah kita membayangkan bahwa mereka berdagang untuk menyambung hidup dan mencukupi kebutuhan dasar? Barangkali di rumah, telah menunggu anak dan istri untuk diberi makan dari hasil dagangan kecil-kecilan. Masih tega menawar pada mereka? Mari berbaik sangka saja. Bahwa dengan membeli dagangan dengan harga wajar dan layak, kita telah membantu kehidupan para pedagang kecil.

~lembayungmerahsenja
Photo Credit: bacarito
Share:

28 Juni 2017

Ada Rindu dalam Semangkuk Soto Betawi


Tampaknya akan jauh lebih sulit melupakanmu dari yang kukira. Sebab, kita terlalu banyak kesamaan. Kebetulankah? Nonsense. Tak ada kebetulan di atas dunia ini.

Soto Betawi salah satunya. Dapat dipastikan, makanan ini mengingatkanku padamu. Jangan menonton film-film Johnny Depp. Sebab, kau juga menyukai aktor kesukaanku. Jangan menonton pertandingan bola. Sebab, kau dan aku memiliki klub favorit masing-masing. Melihat lambang MU sama saja dengan mengingatmu. Apa bedanya dengan dirimu? Cukup membaca caption #HalaMadrid saja, dijamin kau pasti ingat aku.

Hari ini mungkin kita merasa mudah untuk saling melupakan. Tapi suatu saat nanti, hal-hal yang aku sebutkan tadi pasti akan terjadi. Sesuatu yang ingin kita lupakan sekarang adalah hal yang paling kita rindukan manakala kita berusaha untuk saling melupakan.

Ah, soto Betawi ini terasa asin. Padahal, tak kelebihan garam. Ternyata, asinnya dari bulir air mata yang menetes ke mangkuk. Aku menangis. Karena rindu padamu? Bukan. Mataku kemasukan debu.

Ketahuankah dustanya? Kau benar. Aku sedang rindu. Gombal? Hanya padamu. Bukan pada yang lain. Aku yakin kau suka saat aku menggombal. Coba lihat wajahmu di cermin saat ini. Kau pasti tersenyum. Aku tahu sebab ada lengkung senyummu di pikiranku.

~lembayungmerahsenja
Share:

17 Juni 2017

Gawai


"Bun, nanti belikan Adzra HP ya!" rengek Si Sulung.

"Untuk apa?" tanyaku.

"Yang lain udah punya HP. Adzra sendiri yang belum".

Si Sulung sudah 12 tahun. Sebentar lagi masuk SMP. Hampir semua teman di kelasnya sudah memiliki smartphone. Kebanyakannya digunakan untuk pergaulan di media sosial. Karena itulah, dia tak berhenti merengek minta dibelikan.

Bagaimana pun cara menjelaskan agar tidak usah dulu punya telepon genggam, keinginannya masih saja tak bisa dibendung.

Aduh, Nak! Ini bukan masalah mampu atau tidaknya orangtuamu mengabulkan semua keinginanmu. Jadwal menonton televisi saja, yang hanya tiap ujung Minggu, sudah membuatmu lalai. Engkau sanggup duduk berjam-jam di depan televisi. Asyik menonton kartun dan terbahak-bahak sendiri. Saat adikmu merengek agar salurannya diganti, mengalah pun engkau tak mau.

Apalagi jika engkau dibelikan telepon genggam atau gawai sejenis. Pasti, tanganmu tak akan lepas dari gawai. Lalu, engkau akan selalu menutup pintu kamar dan menyibukkan diri dengan media sosial atau menonton video di YouTube. Atau bahkan, sibuk berswafoto dan memamerkan hasil jepretanmu di media sosial. Kami, orangtuamu, tak suka bila waktumu habis tak berguna. Kami pun tak suka wajahmu dipamerkan ke siapa saja hanya untuk mendapatkan pujian dari orang lain.

Jadi, Nak, biarlah saja teman-temanmu sibuk dengan gawainya. Tiap orangtua memiliki cara pengasuhan dan didikan yang berbeda-beda. Bila keinginanmu tak dipenuhi, kami pasti memiliki alasan untuk kebaikanmu. Mungkin esok lusa, kau akan pahami alasannya.

Bahwa, didikan dan pengajaran kami kepadamu di dunia ini, sungguh besar pertanggungjawabannya di hadapan Allah Azza Wa Jalla kelak. Sebab itulah, kami wajib mendidikmu dengan baik. Mengokohkan tauhidmu, menguatkan ibadahmu, mempercantik akhlakmu, dan menyiapkanmu menjadi mujahidah kelak. Aamiin. Inshaa allah. Ingatlah Nak, bahwa tanggung jawab kami sebagai orang tua dijelaskan pada salah satu firman Allah Azza Wa Jalla berikut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (Qs At-Tahrim: 6)

Jadi, Nak, mari kita bersama-sama menggapai keridhoan Allah Azza Wa Jalla. Kasih sayang sebagai orangtua bukan terletak pada sebanyak apa keinginanmu dapat dipenuhi melainkan sepatuh apa kami pada perintah Allah Azza Wa Jalla dalam mengemban amanah yang diberikan. Amanah itu adalah engkau dan adik-adikmu.

~lembayungmerahsenja

Photo Credit: Expert Reviews
Share: