22 Oktober 2009

Sertifikasi Guru: Pentingkah?

Adalah suatu undang-undang. Salah satu pasal yang diamanatkan dalam UU ini adalah mewajibkan guru untuk melanjutkan studinya ke jenjang minimal S1. Akibatnya, ribuan guru dibiayai oleh pemerintah daerahnya untuk mengikuti amanat UU ini. Alhasil, banyak pula guru yang mengikuti kuliah serba cepat, alias kuliah hanya pada hari Sabtu dan Ahad saja. Kualitasnya? Anda bisa jawab sendiri.
Pertama, karena ini adalah kewajiban maka ramai pula guru yang terpaksa patuh dan ikut acara perkuliahan dua hari dalam seminggu ini.
Kedua, hal ini berhubungan dengan sertifikasi yang hampir semua guru menginginkan lulus dalam sertifikasi dan membayang-bayangkan rupiah yang diperoleh jika lulus.
Ketiga, karena motivasinya hanya rupiah maka banyak pula keculasan dan kecurangan dalam proses sertifikasi tersebut.
Begitulah kondisi miris di suatu negeri. Bagaimana mungkin, pembelajaran yang kita ketahui adalah suatu proses berkesinambungan dalam kehidupan manusia harus tergadai dengan kondisi seperti ini. Bagi saya sendiri, sertifikasi bukanlah menjadi tolok ukur profesionalitas seorang guru. Untuk menjadi seorang pengajar sekaligus pendidik, haruslah memiliki niat baik dan ikhlas terhadap tugas yang diembannya. Bukan karena iming-iming rupiah. Bukankan kepuasan batin itu lebih berharga dibandingkan dengan kepuasan lahir. Marilah mulai memperbaiki diri. Memang kita tidak akan mampu menjadi guru yang superpower,namun setidaknya kita tetap berusaha menjalankan amanat sebagai pendidik yang dapat bertangung jawab terhadap anak didik kita, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Insyaallah.
Share:

31 Mei 2009

Ujian Nasional

Senang sekali rasanya bisa kembali menulis setelah beberapa waktu kesenangan ini terpaksa dihentikan seketika karena berbagai kesibukan yang tidak dapat saya tinggalkan. Meskipun agak terlambat membahas tentang ujian nasional tetapi tidak ada kata terlambat untuk kembali menulis. Mengapa lagi-lagi topik ini muncul? Karena memang topik yang satu ini selalu menarik untuk diperbincangkan atau diperdebatkan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya, termasuk saya tentunya.

Ketika ujian nasional sudah semakin dekat, banyak sekali tanggapan dan kecaman yang datang dari berbagai kalangan. Begitulah setiap tahun. Ternyata proses berdemokrasi juga berjalan alot dalam polemik ujian nasional ini. Meskipun otonomi daerah telah lama didengung-dengungkan, ternyata pendidikan masih juga otoritas pemerintah pusat. Standar kelulusan ditingkatkan setiap tahunnya. Tahun ini saja sudah mencapai 5.5. Akibatnya, banyak siswa, guru, dan orang tua yang stres. Kasian.

Yang lebih parahnya lagi, kasus pembocoran soal dan kunci jawaban ujian nasional masih tetap menjadi berita basi yang kita dengar atau bahkan kita saksikan atau jangan-jangan malah kita terlibat di dalamnya. Hebat!

Terlepas dari pro ataupun kontra terhadap UN, toh pemerintah pusat tidak salah menetapkan standar kelulusan yang katanya untuk melihat sejauh mana kualitas pendidikan di setiap daerah . Tentu saja, daerah yang kurang fasilitas pendidikan tetap tertinggal dengan lembaga pendidikan yang ada di kota-kota besar. Maka dari itu, seharusnya sekolah-sekolah yang berada di kota-kota besar dan memiliki fasilitas pendidikan yang memadai harus malu dengan satndar kelulusan yang sama dengan sekolah-sekolah yang terletak di daerah terpencil atau terisolir yang dapat dipastikan sangat minim fasilitas pendidikannya.

Tampaknya kita memang tidak akan pernah berhenti bekerja keras dalam menyiapkan siswa-siswa kita menghadapi UN. Terlepas dari UN, satu hal yang mesti selalu kita ingat adalah tujuan utama pendidikan adalah menciptakan generasi yang berakhlak mulia dan bertakwa yang tentu saja hal ini tidak dapat diukur dengan standar kelulusan. Wallahualam.
Share:

22 Februari 2009

Syair Ikan Terubuk

Bismillah itu permulaan kalam
Dengan nama Allah Khalik al Alam
Melimpahkan rahmat siang dan malam
Kepada segala mukmin dan Islam

Mula dikarang Ikan Terubuk
Lalai memandang ikan di lubuk
Hati dan jantung bagai serbuk
Laksana kayu dimakan bubuk

Asal Terubuk ikan puaka
Tempatnya konon di laut Malaka
Siang dan malam berhati duka
Sedikit tidak menaruh suka

Pagi dan petang duduk bercinta
Berendam dengan airnya mata
Kalbunya tidak menderita
Karena mendengan khabar berita

Pertama mula Terubuk merayu
Berbunyilah guruh mendayu-dayu
Senantiasa berhati sayu
Terkenang putri ikan Puyu-puyu

Putri Puyu-puyu konon namanya
Di dalam kolam konon tempatnya
Cantik majelis barang lakunya
Patutlah dengan budi bahasanya

Kolam tu konon di Tanjung Padang
Di sanalah tempatnya Terubuk bertandang
Pinggangnya ramping dadanya bidang
Hancurlah hati Terubuk memandang

Muda menentang dari saujana
Melihat putri terlalu lena
Hati di dalam bimbang gulana
Duduk bercinta tiada semena

Gundah gulana tidak ketahuan
Lalulah pulang muda bangsawan
Setelah sampai ke Tanjung Tuan
Siang dan malam igau-igauan
Share:

20 Februari 2009

Budaya Malas Membaca

Prinsip pengajaran membaca adalah agar para siswa terampil berbahasa, yakni terampil menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Membaca merupakan salah satu kemampuan dasar yang wajib dimiliki oleh siswa. Menyadari hal tersebut,tanggung jawab guru menjadi sangat berat karena ia harus mengantarkan para siswanya ke gerbang penjelajahan ilmu dengan bekal kemampuan yang memadai. Oleh karena itu, kemampuan membaca yang diperoleh siswa harus tuntas dan tidak boleh ada satu tahap pun yang terlewati.

Jika dikaitkan dengan kenyataan yang ada, kegiatan membaca belum menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat kita. Guru harus menyadari hakikat tujuan pengajaran membaca, yakni agar para siswa terampil membaca serta memiliki budaya membaca. Selain itu, membaca tidak hanya bagian dari proses pendidikan bagi pembacanya, akan tetapi juga mampu mengubah sampai pada tataran tingkah laku seseorang. Namun malangnya, masih banyak guru yang enggan membudayakan membaca dalam kehidupannya. Padahal, guru dapat dengan mudah memberikan contoh langsung kepada siswa. Permasalahannya adalah bagaimana guru dapat memberikan proses pembelajaran membaca yang baik di dalam kelas jika ia sendiri enggan membaca. Alih-alih memberikan contoh.
Share: